Senin, 19 Maret 2012

Batuan Metamorf

0 komentar

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme batuan-batuan sebelumnya baik itu batuan beku, sedimen maupun batuan metamorf lain, yang dikarenakan adanya pengaruh tekanan, temperature, dan aliran panas baik cair maupun gas. Struktur batuan metamorf ada 2 yaitu foliasi dan non foliasi.
1. Foliasi
Foliasi yaitu penglihatan berlapis atau berlembar pada permukaan batuan akibat orientasi kesejajaran mineral penyusun batuannya. Foliasi umumnya merupakan hasil metamorfose regional (pembahasan selanjutnya), jenis ini secara visiula menampakkan kesan seperti lapisan pada batuan sedimen. Contoh batuannya adalah Slaty, Phyllit, Schistose, Gneissic

2.  Non Foliasi
  Struktur yang kedua yaitu non Foliasi. Merupakan kenampakan tidak berlapis atau tidak berlembar pada permukaan batuan. Contoh batuannya adalah kuarsit dan marmer.
 
Non foliasi terbagi atas  Granulose/hornfelsik, merupakan mozaik yang terdiri dari mineral equidimensional. Umumnya Non Foliasi merupakan hasil metamorfose kontak / termal (pembahasan selanjutnya).


A.          TIPE / PENGELOMPOKAN BATUAN METAMORF

1.              Metamorf  Termal / Kontak
Proses pembentukan batuan metamorf yang tejadi akibat adanya pengaruh suhu (T) yang tinggi  yang dikarenakan pengaruh instrusi magma yang panas (akibat intrusi/kontak langsung dengan magma). Dengan demikian batuan metamorf  tipe ini sering ditemui di sekitar tempat-tempat batuan instrusi. Contoh  batuannya yaitu batu sabak, batu tanduk (hornfels), marmer (marbel), kuarsit.

a.        Marmer
Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu gamping. Marmer termasuk dalam batuan metamorf Non Foliasi. Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batugamping. Setiap ada batu marmer akan selalu ada batugamping, walaupun tidak setiap ada batugamping akan ada marmer. Karena keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik berupa tekan maupun perubahan temperatur yang tinggi.


2.      Metamorf Dinamo/Dislokasi/Kataklastik
Adalah proses pembentukkan batuan metamorf yang diakibatkan oleh kenaikan tekanan (P) yang dihasilkan oleh gerak diastropisme. Metamorfose semacam ini biasanya didapatkan di daerah patahan dan lipatan. Dengan adanya tekanan dari arah yang berlawanan maka butiran-butiran mineral akan menjadi pipih d
an sebagian akan mengkristal kembali. Contoh batu sabak (slate), milonit dan lainnya.

a.    Batu Sabak (slate)
Batu sabak merupakan batuan hasil proses metamorfosa dari mudstone (batu lumpur). Mudstone yan gterdiri dari butiran-butiran kuarsa di dalam masa liat yang lebih halus, karena tertekan maka butiran kuarsa menjadi pipih sedangkan partikel liat mengkristal kembali menjadi lapisan mika. Batu sabak termasuk dalam batuan metamorf Foliasi


1.      Metamorf Regional (Dinamo-Termal)
Proses pembentukkan batuan metamorf yang diakibatkan oleh kenaikan tekan (P) dan temperature (T) secara bersama-sama. Proses ini terjadi secara regional, berhubungan dengan lingkungan tektonis, misalnya pada jalur “pembentukan pegunungan” dan “zona tunjaman” dsb. Contoh batuannya adalah filit, sekis, gneiss, kuarsit, eklogit, marmer (pada metamorf regional).
Read more...

Jenis - jenis Batubara

0 komentar

Tingkat perubahan yang dialami batu bara, dari gambut sampai menjadi antrasit – disebut sebagai pengarangan – memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batu bara. Batu bara dengan mutu yang rendah, seperti batu bara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak. Antrasit adalah batu bara dengan mutu yang paling baik dan dengan demikian memiliki kandungan karbon dan energi yang lebih tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih rendah (lihat diagram). Secara singkat, jenis batubara yaitu: Antrasit, bituminus, subbituminus, lignit, gambut.
Read more...

BATUAN SEDIMEN

0 komentar
1. Golongan Ditritus
A. Ditritus Halus
- Lempung
Merupakan endapan aluvium berwarna abu-abu, bersifat lunak, lembab dengan plastisitas sedang – tinggi, keras dalam keadaan kering, mudah digali. Lempung terutama banyak dijumpai di Pulau jawa dan sumatera.
B. Ditritus kasar
- Batu pasir
Batuan ini terbentuk karena adanya proses segmentasi butiran-butiran pasir yang terbawa oleh arus sungai, ombak hingga angin hingga akhirnya terakumulasi pada suatu tempat. Oleh karena itu, batuan ini disebut batu pasir. Ukuran butiran sandstone adalah 1/16 sampai 2 mm.

2. Golongan Karbonat
A. Batu Gamping
Batu kapur (Gamping) dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, secara mekanik, atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batu kapur dapat berwarna putih susu, abu muda, abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya.
Mineral karbonat yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur adalah aragonit (CaCO3), yang merupakan mineral metastable karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah menjadi kalsit (CaCO3). Mineral lainnya yang umum ditemukan berasosiasi dengan batu kapur atau dolomit, tetapi dalam jumlah kecil adalah Siderit (FeCO3), ankarerit (Ca2MgFe(CO3)4), dan magnesit (MgCO3).

3. Golongan Evaporit
A. Gipsum
Gipsum (CaSO4.2H2O) mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan, gipsit alabaster, satin spar, dan selenit. Gipsum umumnya berwarna putih, namun terdapat variasi warna lain, seperti warna kuning, abu-abu, merah jingga, dan hitam, hal ini tergantung mineral pengotor yang berasosiasi dengan gypsum. Gipsum umumnya mempunyai sifat lunak, pejal, kekerasan 1,5 – 2 (skala mohs), berat jenis 2,31 – 2,35, kelarutan dalam air 1,8 gr/l pada 00C yang meningkat menjadi 2,1 gr/l pada 400C, tapi menurun lagi ketika suhu semakin tinggi.

4. Golongan Sedimen Silika
A. Diatomea
Diatomit atau tanah diatomea adalah suatu batuan sedimen silika, yang secara geologi terbentuk dari akumulasi dan pengendapan kulit atau kerangka diatomea (fosil tumbuhan air atau binatang kersik atau ganggang bersel tunggal) dan terendapkan di danau atau non marin. Diatomea berasosiasi dengan elemen pengotor dan bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya. Elemen pengotor diatomea tersebut yaitu abu vulkanik, larutan garam, lempung, senyawa karbonat, pasir silica, dan unsur organik lainnya.

5. Golongan batubara
1. Batubara
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Read more...
Jumat, 13 Januari 2012

Karakteristik Industri Pertambangan

0 komentar









Tulisan ini akan membahas mengenai ciri-ciri industri pertambangan, dan apa saja kriteria industri pertambangan. Adapun kriteria industri pertambangan adalah
      -          Padat modal
Dalam industri pertambangan sangat memerlukan modal yang besar.  Misalnya dalam satu perusahaan tambang, memerlukan beberapa alat berat, alat transportasi, gaji karyawannya, dan dapat kita hitung sendiri berapa mdal yang harus dikeluarkan untuk membuka satu industry pertambangan
    
      -           Padat resiko
Industri pertambangan memiliki karakteristik pedat resiko, artinya memiliki resiko yang besar. Resiko tersebut telah ada pada tahapan awal pertambangan, yaitu eksplorasi. (lihat tahap-tahap pertambangan : http://kumpulaninfotambang.blogspot.com/2011/12/tahapan-tahapan-kegiatan-usaha.html ). Jika dalam eksplorasi tersebut tidak menemukan bahan galian yang memiliki keuntungan untuk ditambang, maka pemilik industry tersebut harus menerima kerugian awal yang dapat dikatakan cukup besar. Resiko lainnya juga dapat muncul ketika industry pertambangan tersebut telah memasuki tahap penambangan.

      -          Sebaran  bahan galian terpencar
Bahan galian yang tersedia dialam ini tidak selalu berada pada satu tempat saja, sebagian besar terpencar, ini mengakibatkan keberadaan suatu industri pertambangan tersebut juga terpencar atau tidak berada pada satu tempat saja.

      -          Remote location
Keberadaan suatu tambang jarang yang terletak di suatu perkotaan, sebagian besar tambang itu terletak di daerah-daerah  tepencil

       -          Cenderung merusak lingkungan
suatu industry bukan merusak lingkungan, tetapi cenderung merusak lingkungan jika kegiatan pertambangan tersebut tidak mengikuti peraturan-peraturan yang ada.

       -          Agenf of Development of Area
Suatu industri pertambangan dapat menjadi agen pembangunan suatu daerah menjdai lebih baik lagi.
Read more...

Karakteristik Bahan Galian Industri

0 komentar








Apa itu bahan galian industri? Apa saja karakteristik bahan galian industri? Tulisan ini akan membahas mengenai hal tersebut. Bahan galian industri adalah bahan galian diluar bahan galian logam dan radioaktif yang memiliki kegunaan langsung terhadap keperluan industri. Contoh bahan galian industri adalah Batu gamping, batu pasir, lempung, belerang, zirkron, pasir kuarsa, dan lain-lain.
Karakteristik bahan galian industri diantaranya:
- Multiguna
Jika dibandingkan dengan bahan galian lain, bahan galian industri ini memiliki banyak kegunaan, misalnya batu gamping, yang merupakan salah satu contoh bahan galian industri. Batu gamping memiliki banyak kegunaan diantarany untuk industri semen. Selain itu ternyata batu gamping ini juga memiliki kegunaan sebagai pemutih kertas. Disini terlihat jelas, bahwa bahn galian industri ini memiliki banyak kegunaan.

- Digunakan langsung
Karakteristik BGI yang nyata yaitu dapat digunakan langsung, khususnya untuk keperluan industri. Contohnya batu pasir yang tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut, dapat langsung digunakan untuk keperluan bahan bangunan dan lainnya.

- Tidak melalui pemasaran internasional
Tidak seperti bahan galian lainnya, pemasaran bahan galian industri tidak memerlukan pemasaran internasional.
Read more...
Senin, 09 Januari 2012

Penggolongan Bahan Galian

7 komentar
Tulisan ini akan membahas tentang penggolongan bahan galian, bagaimana penggolongan bahan tambang, ataupun klasifikasi bahan galian. Penggolongan bahan galian didasarkan atas pasal 1 ayat a, b, dan c PP No. 27/1980 terbagi menjadi:

• Golongan A (Bahan galian strategis)
Bahan galian golongan ini strategis untuk keberlangsungan kehidupan orang banyak, tanpa adanya bahan galian golongan ini, kehidupan orang banyak akan terganggu. Itulah yang menyebabkan bahan galian ini bernilai strategis. Adapaun yang termasuk bahan galian golongan A adalah
a. minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam
b. bitumen padat, aspal;
c. antrasit, batubara, batubara muda;
d. uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya;
e. nikel, kobalt;
f. timah.

• Golongan B (Bahan galian vital)
Bahan galian golongan ini bernilai vital untuk ketahanan Negara, tanpa adanya bahan galian golongan ini ketahanan Negara dapat terganggu, sebagian bahan galian golongan ini bersifat logam, dan intinya dapat berguna untuk ketahanan negara, dll. Adapun yang termasuk bahan galian golongan B adalah
a. besi, mangan, molybdenum, khrom, wolfram, vanadium, titanium;
b. bauksit, tembaga, timbal, seng;
c. emas, platina, perak, air raksa, intan;
d. arsen, antimon, bismut;
e. yitrium, rhutenium, cerium, dan logam-logam langka lainnya;
f. berillium, korundum, zircon, kristal kwarsa;
g. kriolit, fluorspar, barit;
h. yodium, brom, khlor, belerang

• Golongan C (tidak termasuk A dan B)

Adapun yang termasuk bahan galian golongan C adalah

a. nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite);
b. asbes, talk, mika, grafit, magnesit;
c. yerosit, leusit, tawas (alum), oker;
d. batu permata, batu setengah permata;
e. pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit;
f. batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fuller earth);
marmer, batu tulis;
g. batu kapur, dolomit, kalsit;
h. granit, andesit, basalt, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan a maupun b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.
Read more...

Pengolahan Bahan Galian

0 komentar
Tujuan Pengolahan bahan galian adalah
• Agar dapat mengurangi ongkos angkut, karena zat-zat pengotor yang tercampur dalam bahan galian telah dipisahkan sehingga yang diangkut merupakan bahan galian murni yang telah terbebas dari pengotor
• Meningkatkan nilai tambah bahan galian, karena setelah dilakukannya pengolahan dapat meningkatkan kadar bahan galian tersebut, sehingga nilai jualnya akan meningkat juga dipasaran
• Untuk mereduksi senyawa-senyawa kimia yang tidak dikehendaki pabrik peleburan
• Menyesuaikan dengan permintaan pasar
Read more...